(Untuk Agung Manikam dan Lina Sophy)
Tanggal 8 Desember 2013 adalah bagian dari hari baik bagiku, ini hari
bahagia, pun tak hadir pada pernikahannya Agung dan Lina. Maka aku
ingin menulis tentang satu keindahan dan kemerduan. Ini tentang
kepaduan yang menjadikan nyala dan langkah, dan kebaruan yang
sebaiknya selalu baru.
Keindahan itu rupa dari ragam bentuk dan warna-warna yang padu dalam
satu tamam. Tiap-tiap benda tersusun dari setengah sesuai dan
tak-sesuai; kemerduan itu rupa dari ragam major dan minor yang padu
dalam satu lagu. Tiap-tiap nada tersusun dari setengah tinggi dan
setengah renah.
Maka sebaik-baiknya menikmati adalah menerima keseluruhannya sebagai
kesatuan. Sebab, ketika bersedia menerima juga berarti bersedia
memberi, demikian sebaliknya. Ibarat satu, ia genap sekaligus ganjil,
setiapnya adalah setengah-setengah yang memadu dan padu.
Memadu "dua pribadi dalam satu cita" ibarat setengah positif menerima
setengah negatif, sebagai sama-sama energi, sehingga menjadi satu
nyala; atau umpama kiri kehilangan setengah langkah untuk setengah
kanan melangkah sehingga menjadi satu langkah;
Ini makna lain dari "kehilangan": relakan satu pribadi"ku" kehilangan
setengah ke"aku"annya. Kerelaan ini syarat terbaik dalam menjumlahkan
dua "aku" menjadi satu: satu arah tuju, satu langkah baru, satu dari
keseluruhan taman dan lagu dalam keluarga.
___
(gak hadir pada pernikahan kalaian, mencuri poto dari Mas Agung:
maaf ya...heuheuheu...
aku meng-amin-kan do'a baik kalian)
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
1.03.2019
9.09.2017
Budaya Cendikia Indonesia
adalah
satu di antara sekian harapan yang masih tertahan, ia
BUDAYA CENDIKIA INDONESIA
Masa kuliah dulu, mimpi-mimpi disusun rapi. Diantaranya Daya Masyarakat Indonesia dan Budaya Cendikia Indonesia. Satu untuk Pemberdayaan Masyarakat, dua untuk Pendidikan. Kedua-duanya tetap tak pernah beranjak dalam benak. Mengapa? Karena kelahirannya masih tertunda di syurga 😇
7.08.2016
1437 H
Selama Romadhon kemarin hilanglah kata-kata. Sedikit sekali kebijaksanaan yang kucerap sebagai cahaya. Ini boleh terjadi ketika keadaan terpapar runyam atau lunglainya keimanan.
12.26.2013
Mimpi
Mimpi.
Mengikuti para motivator, "raihlah mimpimu". Maka pertama-tama aku
menyusun suatu impian dengan bahan pilihan yang tersedia dalam benak.
Ya. Benak itu kan perpustakaan jiwa yang didalamnya terdapat ragam
referensi (ingatan). Sebisa mungkin, secermat mungkin, seteliti
mungkin, impian disusun dan terbangunlah dengan indan. "Kelak, aka
akan…, karena itu adalah mimpiku, impianku!".
Beranjak dari beranda kamar, membuka laptop, mengaksarakan impian yang
aku susun beberapa hari. Dua halaman A4 hampir penuh. Sedari awal, aku
sudah sungguh sumringah. Betapa hebatnya aku: tidak hanya menentukan
bagaimana keadaanku seharusnya nanti, tetapi juga telah memilih-milih
jalannya agar sampai padanya dengan selamat.
Kira-kira, cuma perlu dua halaman A4 lagi untuk menyelesaikan
garis-gari pokok sebagai pedoman guna meraih mimpi yang aku susun
berhari-hari. Tapi sial, kopi di cangir sudah habis. Terpaka buat
lagi, sendir. Lebih sialnya lagi, selama membuat kopi, lamunan malah
bermain layang-layang, sembangi masa demi masa, kenangan terkenang.
Karenanya aku memilih mebuka file-file lama.
adakah seorang insan yang mengerti..
apakah arti kehidupan ini…
pernah kucari arti cinta sejati
namun yang kutemui hanyalah mimpi..
suatu mimpi kosong yang tak bertepi
apakah salah hati ini
ingin memiliki sebuah cinta sejati..
apakah arti sebuah persahabatan sejati
apakah itu juga sebuah mimpi..?
jika benar,
apalah arti semua ini.. (1
Puisi itu ditulis Wardhana tahun 2008. Entah apa maksud yang ingin
ditegaskan oleh puisi itu, tapi "yang kutemi hanyalah mimpi"
memunculkan pertanyaan: mengapa tidak ditanyakan "apakah arti sebuah
mimpi sejati". Beberapa saat lamun-melamun, kemudian balik membacai
barisan kalimat perihal impian yang baru setengah kuaksarakan.
Penasaran perihal mimpi dan impian, klik search untuk semua file dalam
disk C, D, E. Beberapa file muncul dengan nama yang mengandung kata
mimpi. Munucl beberapa tulisan yang kuambil dari blog dan tulisan
teman perihal mimpi dan impian. Tapi cuma satu puisi yang berjudu
Mimpi, tanpa kata lain sebelum dan sesudahnya, ditulis Arina ditahun
yang sama.
mimpi
adakalanya suka duka
penat letih
mimpi
melayang jiwaku
enak bersama mainan yang terus beraksi
hinggalah ku terjaga dari lena yang enak (2
Sialnya, "apakah arti sebuah mimpi sejati" malah kujawab "hinggalah
kuterjaga dari lena yang enak". Impian yang kususun, ternyata tak
lebih sejati dari "mainan yang terus beraksi" selama tertidur. Karena
impian hanya kata sifat dari mimpi yang teralami ketika tidur. Diluar
keadaan tidur, mimpi tak pernah terjadi. Maka, sekejap berada dalam
keterjagaan impianpun buyar. Hapus, dan menggantinya dengan ini.
Ada lagi sialnya, "apakah itu juga sebuah mimpi..?", dalam puisi
Wardhana, memantik keisengan merekayasa kalimat, menjadi "apakah ini
juga sebuah mimpi?" Jangan-jangan aku ini sedang dalam keadaan
tertidur, tidur yang lebih lama daripada yang biasanya kita sebut
tidur. Dari kesemerawutan tulisanku yang ini, bodohnya, aku malah
mengakhirnya dengan kalimat: mimpi, ini adalah kenyataan lain dari
kenyataan ini.
Puisi
1. Arti Kehidupan, Joe Wardhana, 12 Juli 2008, Bandung
2. Mimpi, Norsaparina, 11 Agustus 2008, Kuala Lumpur
28 Oktober 2013
Mengikuti para motivator, "raihlah mimpimu". Maka pertama-tama aku
menyusun suatu impian dengan bahan pilihan yang tersedia dalam benak.
Ya. Benak itu kan perpustakaan jiwa yang didalamnya terdapat ragam
referensi (ingatan). Sebisa mungkin, secermat mungkin, seteliti
mungkin, impian disusun dan terbangunlah dengan indan. "Kelak, aka
akan…, karena itu adalah mimpiku, impianku!".
Beranjak dari beranda kamar, membuka laptop, mengaksarakan impian yang
aku susun beberapa hari. Dua halaman A4 hampir penuh. Sedari awal, aku
sudah sungguh sumringah. Betapa hebatnya aku: tidak hanya menentukan
bagaimana keadaanku seharusnya nanti, tetapi juga telah memilih-milih
jalannya agar sampai padanya dengan selamat.
Kira-kira, cuma perlu dua halaman A4 lagi untuk menyelesaikan
garis-gari pokok sebagai pedoman guna meraih mimpi yang aku susun
berhari-hari. Tapi sial, kopi di cangir sudah habis. Terpaka buat
lagi, sendir. Lebih sialnya lagi, selama membuat kopi, lamunan malah
bermain layang-layang, sembangi masa demi masa, kenangan terkenang.
Karenanya aku memilih mebuka file-file lama.
adakah seorang insan yang mengerti..
apakah arti kehidupan ini…
pernah kucari arti cinta sejati
namun yang kutemui hanyalah mimpi..
suatu mimpi kosong yang tak bertepi
apakah salah hati ini
ingin memiliki sebuah cinta sejati..
apakah arti sebuah persahabatan sejati
apakah itu juga sebuah mimpi..?
jika benar,
apalah arti semua ini.. (1
Puisi itu ditulis Wardhana tahun 2008. Entah apa maksud yang ingin
ditegaskan oleh puisi itu, tapi "yang kutemi hanyalah mimpi"
memunculkan pertanyaan: mengapa tidak ditanyakan "apakah arti sebuah
mimpi sejati". Beberapa saat lamun-melamun, kemudian balik membacai
barisan kalimat perihal impian yang baru setengah kuaksarakan.
Penasaran perihal mimpi dan impian, klik search untuk semua file dalam
disk C, D, E. Beberapa file muncul dengan nama yang mengandung kata
mimpi. Munucl beberapa tulisan yang kuambil dari blog dan tulisan
teman perihal mimpi dan impian. Tapi cuma satu puisi yang berjudu
Mimpi, tanpa kata lain sebelum dan sesudahnya, ditulis Arina ditahun
yang sama.
mimpi
adakalanya suka duka
penat letih
mimpi
melayang jiwaku
enak bersama mainan yang terus beraksi
hinggalah ku terjaga dari lena yang enak (2
Sialnya, "apakah arti sebuah mimpi sejati" malah kujawab "hinggalah
kuterjaga dari lena yang enak". Impian yang kususun, ternyata tak
lebih sejati dari "mainan yang terus beraksi" selama tertidur. Karena
impian hanya kata sifat dari mimpi yang teralami ketika tidur. Diluar
keadaan tidur, mimpi tak pernah terjadi. Maka, sekejap berada dalam
keterjagaan impianpun buyar. Hapus, dan menggantinya dengan ini.
Ada lagi sialnya, "apakah itu juga sebuah mimpi..?", dalam puisi
Wardhana, memantik keisengan merekayasa kalimat, menjadi "apakah ini
juga sebuah mimpi?" Jangan-jangan aku ini sedang dalam keadaan
tertidur, tidur yang lebih lama daripada yang biasanya kita sebut
tidur. Dari kesemerawutan tulisanku yang ini, bodohnya, aku malah
mengakhirnya dengan kalimat: mimpi, ini adalah kenyataan lain dari
kenyataan ini.
Puisi
1. Arti Kehidupan, Joe Wardhana, 12 Juli 2008, Bandung
2. Mimpi, Norsaparina, 11 Agustus 2008, Kuala Lumpur
28 Oktober 2013
10.23.2013
Usah Risau
Usah beranggapan bahwa "dunia" ini luas, apalagi teramat luas, sebab
ia "tak selebar telapak tangan". Ini bukan guyonan. Bukan tak mungkin
tiba-tiba aku dihadapanmu tanpa rencana akan bertemu; atau sesaat
selepas kita tentukan sama-sama masa untuk bersua, tiba-tiba maut
menjemputku.
Betapa kecewa ketika semua kata yang kita susun untuk mengisi
pertemuan kita, tetapi ketika bertemu, sebelum saling menyapa, kita
sudah tak lagi di dunia atau dunia ini sudah tak ada lagi.
Semua sesuai ukuran, seperti yang sudah, nanti pun tak jauh beda. Ini
kenyataan. Nyatanya, harapan seringkali berujung kekecewaan; dan
hebatnya, kekecewaan malah membuka jalan menuju harapan baru. Sialnya
ketika harap dan kecewa berulang-ulang dalam suasana yang nyaris
serupa.
ia "tak selebar telapak tangan". Ini bukan guyonan. Bukan tak mungkin
tiba-tiba aku dihadapanmu tanpa rencana akan bertemu; atau sesaat
selepas kita tentukan sama-sama masa untuk bersua, tiba-tiba maut
menjemputku.
Betapa kecewa ketika semua kata yang kita susun untuk mengisi
pertemuan kita, tetapi ketika bertemu, sebelum saling menyapa, kita
sudah tak lagi di dunia atau dunia ini sudah tak ada lagi.
Semua sesuai ukuran, seperti yang sudah, nanti pun tak jauh beda. Ini
kenyataan. Nyatanya, harapan seringkali berujung kekecewaan; dan
hebatnya, kekecewaan malah membuka jalan menuju harapan baru. Sialnya
ketika harap dan kecewa berulang-ulang dalam suasana yang nyaris
serupa.
Setitik Hitam di Kanvas Putih
Ketika aku lagi berkutat perihal pola politik kampus yang dirancang
sebagai miniatur negara—ini hal baru bagiku, mungkin juga bagi senior
dan teman-teman—aku sempatkan menelpon adik angkatku. Ia merengek
manja minta maaf dan memberi saran. Ah dia, dasar manja, berani
memberi saran begitu sambil tertawa-tawa. Kalau dekat, aku jitak dia!
Heuheu.
Dia minta maaf karena minggu depan akan menikah. Artinya mendahuluiku
alias ngarunghal. Dan saran dia, "cepatlah menyusul…." Heuheu…berani
dia beri saran macam begitu. Ini ceritaku dulu, masa semester empat,
kalau tak salah ingat. Aku senang mendengar kabar itu. Mengenai
sarannya, aku tertawa-tawa saja. Saran itu datang tidak pada waktu
yang tepat. Setahun lewat, kuterima kabar dia sudah punya anak.
Artinya…heuheu…aku menjadi Uwa.
Aku tertawa hanya karena suara adik angkatku yang kudengar via
handphone. Padahal, di kampus sedang mumet-mumetnya melakukan
penyesuaian, kesialan menjadi Ketua Hima-IKS tepat dimasa transisi,
masa uji coba.
Di masa itu juga, aku berteman baik dengan perempuan lincah. Dia Ketua
Pers Mahasiswa tingkat Fakultas. Aku menulis sebait puisi, aku
titipkan kepada temanku untuk disampaikan kepadanya. Aku kira dia
mengerti, karena sebelumnya sudah dibicarakan bahwa aku akan menulis
puisi untuk dimuat di majalah yang ia pimpin. Entah masalahnya dimana
samapi-sampai puisiku dianggap untuk dia, bukan untuk dipajang
dimajalah. Pekan berikutnya aku klarifikasi. Sialnya, aku lupa
puisiku, aku hanya menulis di sobekan bungkus rokok (ini kebiasaan
buruk) yang sudah dia buang. Heuheu.
Kejadian serupa demikian sebenarnya bukan yang pertama. Seringkali
kita mengalami hal yang mengejutkan ketika kita mengingat-ingat masa
silam secara seksama. Ketika kita dalam kepelikkan masalah,
diantaranya selalu ada hal yang memicu bangkitnya rasa senang hati.
Meskipun hanya sestitik hitam di gelaran kanvas putih, tetap saja
setitik itu menarik perhatian. Seperti oase, ia adalah setitik
kesejukan dalam hamparan kegersangan; setitik pelita dalam gelap malam
tanpa bulan dan bebintang, dan tanpa lampu-lampu.
Dari itu mulailah aku sok cermat mengamati apa yang kualami secara sok
seksama, mencoba mengamati setiap kejadian secara setimbang:rasa pahit
dan manis mesti sama-sama diperhatikan, seperti menikmati secangkir
kopi hitam. Tapi, untuk hingga saat ini, aku lebih banyak terlena dari
pada mendapatkan maknanya. Itu masih terbilang bagus jika dibanding
dengan tidak sekali pun melakukan.
sebagai miniatur negara—ini hal baru bagiku, mungkin juga bagi senior
dan teman-teman—aku sempatkan menelpon adik angkatku. Ia merengek
manja minta maaf dan memberi saran. Ah dia, dasar manja, berani
memberi saran begitu sambil tertawa-tawa. Kalau dekat, aku jitak dia!
Heuheu.
Dia minta maaf karena minggu depan akan menikah. Artinya mendahuluiku
alias ngarunghal. Dan saran dia, "cepatlah menyusul…." Heuheu…berani
dia beri saran macam begitu. Ini ceritaku dulu, masa semester empat,
kalau tak salah ingat. Aku senang mendengar kabar itu. Mengenai
sarannya, aku tertawa-tawa saja. Saran itu datang tidak pada waktu
yang tepat. Setahun lewat, kuterima kabar dia sudah punya anak.
Artinya…heuheu…aku menjadi Uwa.
Aku tertawa hanya karena suara adik angkatku yang kudengar via
handphone. Padahal, di kampus sedang mumet-mumetnya melakukan
penyesuaian, kesialan menjadi Ketua Hima-IKS tepat dimasa transisi,
masa uji coba.
Di masa itu juga, aku berteman baik dengan perempuan lincah. Dia Ketua
Pers Mahasiswa tingkat Fakultas. Aku menulis sebait puisi, aku
titipkan kepada temanku untuk disampaikan kepadanya. Aku kira dia
mengerti, karena sebelumnya sudah dibicarakan bahwa aku akan menulis
puisi untuk dimuat di majalah yang ia pimpin. Entah masalahnya dimana
samapi-sampai puisiku dianggap untuk dia, bukan untuk dipajang
dimajalah. Pekan berikutnya aku klarifikasi. Sialnya, aku lupa
puisiku, aku hanya menulis di sobekan bungkus rokok (ini kebiasaan
buruk) yang sudah dia buang. Heuheu.
Kejadian serupa demikian sebenarnya bukan yang pertama. Seringkali
kita mengalami hal yang mengejutkan ketika kita mengingat-ingat masa
silam secara seksama. Ketika kita dalam kepelikkan masalah,
diantaranya selalu ada hal yang memicu bangkitnya rasa senang hati.
Meskipun hanya sestitik hitam di gelaran kanvas putih, tetap saja
setitik itu menarik perhatian. Seperti oase, ia adalah setitik
kesejukan dalam hamparan kegersangan; setitik pelita dalam gelap malam
tanpa bulan dan bebintang, dan tanpa lampu-lampu.
Dari itu mulailah aku sok cermat mengamati apa yang kualami secara sok
seksama, mencoba mengamati setiap kejadian secara setimbang:rasa pahit
dan manis mesti sama-sama diperhatikan, seperti menikmati secangkir
kopi hitam. Tapi, untuk hingga saat ini, aku lebih banyak terlena dari
pada mendapatkan maknanya. Itu masih terbilang bagus jika dibanding
dengan tidak sekali pun melakukan.
Kematian
Sedih, duka, sunyi, merasa pudar arti diri adalah beberapa diantara
isi dari kehilangan. Kematian hanya satu di antara banyak hal yang
menjadi sebab hadirnya perasaan kehilangan. Keseluruhannya adalah
wajar.
Bukankah "tiada ada yang abadi" kecuali ke-Abadi-an-Nya?. Dan kematian
pun tak abadi, sebagaimana lahirnya perasaan yang diakibatkanya.
Ia hanya tirai antara kehidupan kini dengan kehidupan nanti. Jika
kehidupan kini adalah sekejap, maka kematian tak akan lebih lama dari
itu. Sekejap saja, dibangkitan kembali di kehidupan yang segalanya
berbeda.
Bukankah semua itu wajar, sesuai ketentuaNya? yang tak wajar adalah
menolak apa pun yang sudah terjadi. Akan percuma semuanya.
Sejak penciptaan dimulakan, yang tidak pernah berubah adalah Ubah,
dengan kemapuannya merubah hingga segalanya berubah dalam perubahan
yang berubah-ubah. Tak ada yang pasti kecuali ke-Pasti-an-Nya yang Nya
pastikan.
ke-bersatu-an, ke-terpisah-an, kelahiran dan kemtian hanya bagian dari
keseluruhan yang disebut hidup, hidupnya kehidupan.
isi dari kehilangan. Kematian hanya satu di antara banyak hal yang
menjadi sebab hadirnya perasaan kehilangan. Keseluruhannya adalah
wajar.
Bukankah "tiada ada yang abadi" kecuali ke-Abadi-an-Nya?. Dan kematian
pun tak abadi, sebagaimana lahirnya perasaan yang diakibatkanya.
Ia hanya tirai antara kehidupan kini dengan kehidupan nanti. Jika
kehidupan kini adalah sekejap, maka kematian tak akan lebih lama dari
itu. Sekejap saja, dibangkitan kembali di kehidupan yang segalanya
berbeda.
Bukankah semua itu wajar, sesuai ketentuaNya? yang tak wajar adalah
menolak apa pun yang sudah terjadi. Akan percuma semuanya.
Sejak penciptaan dimulakan, yang tidak pernah berubah adalah Ubah,
dengan kemapuannya merubah hingga segalanya berubah dalam perubahan
yang berubah-ubah. Tak ada yang pasti kecuali ke-Pasti-an-Nya yang Nya
pastikan.
ke-bersatu-an, ke-terpisah-an, kelahiran dan kemtian hanya bagian dari
keseluruhan yang disebut hidup, hidupnya kehidupan.
10.06.2013
Kotak Harapan
Secara metafora rupa harapan itu ibarat kotak yang dibungkus secara
apik dan dikemas menarik. Mengapa? Karena harapan selualu selalu
tentang pembayang-bayangan, pengandai-andaian. Ia tentang masa hadapan
yang siapa pun belum pernah menjahnya, kecuali membayangkannya,
mengandaikannya.
Tidak pernah kualami atau kudengar atau kubaca ada orang yang memiliki
harapan buruk: hidup dalam kesulitan ekonomi, sekarat di kolong
jembatan, mati, kemudian jasadnya dijadikan pakan buaya, dan ruhnya
langgeng di dalam neraka. Ceritakan kepadaku seandainya sungguh ada
yang demikian.
Siapa pun akan mengharapkan: memiliki kekasih atau istri/suami yang
setia dalam berbagai keadaan, memiliki ekonomi dan kesehatan yang
baik, lingkungan masyarakat yang bersahabat, sekarat ketika dalam
kenyamanan, mati, dan tentu menikmati syurga yang dijanjikan Tuhan di
alam baka.
Kotak harapan, selalu dibayangkan berisi kebahagiaan. Maka seperti
kewajiban untuk meraihnya. Segala daya dicurahkan untuk tetap berjalan
menuju peraihannya. Ibarat berjudi bagi penjudi, harapan selalu
dipeliharanya. Jika kalah, ia akan teringat: patah tumbuh; hilang
berganti.
Masalahnya, ketika yang patah tak mau tubuh, ada rasa enggan untuk
berganti. "Keledai yang jatuh di lubang yang sama dengan cara yang
serupa" adalah wajar karena ia seekor keledai. Tetapi istilah "bodoh"
atau "tolol" atau "dungu" terlalu bagus untuk manusia jika ia
melakukannya.
Mungkin saja isi kotak itu kebahagiaan, dan mungkin juga bukan
kebahagiaan. Mungkin isinya ular penyerang, berbisa mematikan; mungkin
sekuntum bungan yang selamanya tak akan berbuah; atau mungkin juga
sebutir bibit yang ketika ditanam dan tumbuh, ia tak akan pernah
berbunga.
Mestikkah menghabiskan bayak daya untuk tetap memikirkan kotak yang
kejelasannya tak jelas, kepastiannya tak pasti, dan tidak ada jaminan
perihal isinya. Jika berjalan menuju suatu tempat, dan kotak harapan
itu akan ditemui dalam perjalan, tidakkah tidak perlu memikirkan kotak
itu?
Lagi pula, tidak ada jaminan apa pun bahwa ketika kotak itu tepat
berada dalam jarak seraihan tangan, mungkin saja hasrat tak lagi
tertarik meraihnya. Sebab, ada kemungkinan ketika nyaris sampai di
satu titik, kita malah mengharapkan titik yang lainya lagi.
apik dan dikemas menarik. Mengapa? Karena harapan selualu selalu
tentang pembayang-bayangan, pengandai-andaian. Ia tentang masa hadapan
yang siapa pun belum pernah menjahnya, kecuali membayangkannya,
mengandaikannya.
Tidak pernah kualami atau kudengar atau kubaca ada orang yang memiliki
harapan buruk: hidup dalam kesulitan ekonomi, sekarat di kolong
jembatan, mati, kemudian jasadnya dijadikan pakan buaya, dan ruhnya
langgeng di dalam neraka. Ceritakan kepadaku seandainya sungguh ada
yang demikian.
Siapa pun akan mengharapkan: memiliki kekasih atau istri/suami yang
setia dalam berbagai keadaan, memiliki ekonomi dan kesehatan yang
baik, lingkungan masyarakat yang bersahabat, sekarat ketika dalam
kenyamanan, mati, dan tentu menikmati syurga yang dijanjikan Tuhan di
alam baka.
Kotak harapan, selalu dibayangkan berisi kebahagiaan. Maka seperti
kewajiban untuk meraihnya. Segala daya dicurahkan untuk tetap berjalan
menuju peraihannya. Ibarat berjudi bagi penjudi, harapan selalu
dipeliharanya. Jika kalah, ia akan teringat: patah tumbuh; hilang
berganti.
Masalahnya, ketika yang patah tak mau tubuh, ada rasa enggan untuk
berganti. "Keledai yang jatuh di lubang yang sama dengan cara yang
serupa" adalah wajar karena ia seekor keledai. Tetapi istilah "bodoh"
atau "tolol" atau "dungu" terlalu bagus untuk manusia jika ia
melakukannya.
Mungkin saja isi kotak itu kebahagiaan, dan mungkin juga bukan
kebahagiaan. Mungkin isinya ular penyerang, berbisa mematikan; mungkin
sekuntum bungan yang selamanya tak akan berbuah; atau mungkin juga
sebutir bibit yang ketika ditanam dan tumbuh, ia tak akan pernah
berbunga.
Mestikkah menghabiskan bayak daya untuk tetap memikirkan kotak yang
kejelasannya tak jelas, kepastiannya tak pasti, dan tidak ada jaminan
perihal isinya. Jika berjalan menuju suatu tempat, dan kotak harapan
itu akan ditemui dalam perjalan, tidakkah tidak perlu memikirkan kotak
itu?
Lagi pula, tidak ada jaminan apa pun bahwa ketika kotak itu tepat
berada dalam jarak seraihan tangan, mungkin saja hasrat tak lagi
tertarik meraihnya. Sebab, ada kemungkinan ketika nyaris sampai di
satu titik, kita malah mengharapkan titik yang lainya lagi.
9.29.2013
Surat Untuk Idea
Aku pun tak mengerti mengapa begitu bergairah untuk menulis. Padalah
cintaku sedang enggan datang dan bermesraan. Berkali-kali aku
tinggalkan laptop untuk mencari-cari di mana Idea bersembunyi.
Hasilnya nihil. Aku kembali untuk menggelitik papan-digit tanpa
membawa apa-apa. Aku sandarkan diri, seruput kopi, hisap dalam-dalam
kretek kesukaan, dan kusambat-sambat Idea: hadilah…hadilah…hadilah…!
Dan…tring…tak datang juga. Sia-sia melakukannya.
Akhirnya aku memilih untuk menggerutu, mengeluhkan tingkah Idea yang
tampaknya mulai tak perhatian. Aku sungguh kecewa karena tingkahnya.
Bagaimana tidak kecewa, ketika birahi menulis tinggi Idea malah tak
kenan datang untuk memanjakan. Sial, kan?! Tapi, "Baiklah", gumamku
sok tangguh nan bijak, aku akan menulis surat pernyataan cinta dan
kecewa karena sikapnya, lalu kuletakan di atas meja riasnya agar ia
membacanya, lalu pergi berlalu. Maka aku mulai saja suratnya dengan
sapaan:
Untuk Idea yang Kusayang
(Aku harap dia mengerti bahwa betapa rasa kasih-sayangku dan tulus
tercurah kepadanya. Lihat saja aku memanggilnya "sayang", "Rindu",
"Kekasih", atau "Cinta". Bukankah itu semua panggilan yang menunjukkan
keakuran, kepaduan, kesaling-membutuhkan, kemesraan yang tak mudah
diurai dengan kata—meskipun memang sangat mudah tercemar oleh ulah
begundal pendusta, atau dalam istilah yang teman pakai: munafikin.)
Ideaku sayang, Kau mengetahui betapa aku selalu sayang dan kasih
kepadamu. Memang sih, sering juga aku abai hingga kau merasa jenuh,
jengkel, kemudian pergi. Tetapi, tahukah kau bahwa ketika aku
tersadar, aku mencarimu hingga merasa sangat lelah. Aku selalu rindu
kemesraan kita yang terjalin indah dan tesulam dalam setiap aksara
yang kita uraikan bersama-sama.
(dengan pembukaan demikian, semoga ia merasakan betapa kehadirannya
yang manja dan lembut-bergelora selalu aku harapkan senatiasa.)
Ideaku sayang, sungguh aku membutuhkan kehadiranmu. Aku tak tahu apa
yang akan terjadi jika kau tidak akan pernah kembali: untuk mengulang
kemesraan seperti biasanya kita bercumbu saling merayu, saling
memanjakan. Betapa indahnya hidupku karenamu. Ibarat kunang-kunang di
lembah yang gelap dan pekat, kehadiramu hangatkan setiap pandanganku
yang seidikit mengatahui.
(Tanpanya, aku sungguh tak tahu sebaiknya mulai dari mana. Maka
semampuku aku merayu-rayu, membujuk hatinya supaya berkenan kembali
dan mesra lagi, duduk bersama-sama dengan secangkir kopi hitam dan
kretek kesayangan. Setelah sebentar kuperhatikan, menulis surat
untuknya dengan isi rayuan-rayuan yang tentu tak mujarab, alangkah
baiknya jika segera kusudahi saja. Cukup satu paragraph penutup.
Selesai, segera pergi.
Ya, pergi ke mana saja yang di sana akan dengan mudah kurasakan betapa
teriknya hari musim kemarau ini, betapa rerumput kehausan dan sebagian
banyaknya sudah tewas dilalap panas. Tetapi seperti sering kukata
bahwa di mana pun dan kapan pun selalu saja ada yang cukup patut untuk
diteladani ketegguhannya yang tanggu dalam menjalani kehidupan. Kalau
mau, mari kita perhatikan di antara tanah sawah yang retak-retak
menganga, di antaranya ada rerumput dan pohon yang malah subur dan
berbunga-bunga.
Aku suka bersama mereka, berpanas-panasan. Tentu saja aku sambangi
mereka ketika hari beranjak senja. Tak terlalu panas lah! Lebih lagi
ketika cintaku, Idea, sedang merajuk dan menjauh, seperti sekarang
ini. Idea sangat manja. Aku mesti benar-benar lembut penuh
kasih-sayang memperlakukannya. Tapi sudahlah, sedang aku usahakan,
belajar dan belajar agar mampu berlaku patut. Dan, akan kuselesaikan
surat untuknya. Satu paragraph lagi.)
Ideaku sayang, jika perlakuanku keliru dan keterlaluan terhadapmu,
mohon tunjukkanlah itu dan bantu aku untuk belajar memperlakukanmu dan
apa saja secara patut dan sewajarnya. Percayalah, sayang, kau bagian
penting bagi hidupku. Sayang, datanglah dan mari kita bersama-sama
melangkah. Tanpamu aku tak tahu sebaiknya mulai dari mana. Ideaku
sayang, aku….
(Heuheu…mentok, habis sudah kata-kata untuk kalimat merayu-rayu. Jadi,
sudahi saja: cukup beri salam tanda sayang selalu .)
Merindui rindumu, Rinduku.
(Akhirnya, ngedulmelku selesai juga. Segera lipat rapih-rapih, dimpan
di atas meja dengan rapih, dan…heuheuheu….)
cintaku sedang enggan datang dan bermesraan. Berkali-kali aku
tinggalkan laptop untuk mencari-cari di mana Idea bersembunyi.
Hasilnya nihil. Aku kembali untuk menggelitik papan-digit tanpa
membawa apa-apa. Aku sandarkan diri, seruput kopi, hisap dalam-dalam
kretek kesukaan, dan kusambat-sambat Idea: hadilah…hadilah…hadilah…!
Dan…tring…tak datang juga. Sia-sia melakukannya.
Akhirnya aku memilih untuk menggerutu, mengeluhkan tingkah Idea yang
tampaknya mulai tak perhatian. Aku sungguh kecewa karena tingkahnya.
Bagaimana tidak kecewa, ketika birahi menulis tinggi Idea malah tak
kenan datang untuk memanjakan. Sial, kan?! Tapi, "Baiklah", gumamku
sok tangguh nan bijak, aku akan menulis surat pernyataan cinta dan
kecewa karena sikapnya, lalu kuletakan di atas meja riasnya agar ia
membacanya, lalu pergi berlalu. Maka aku mulai saja suratnya dengan
sapaan:
Untuk Idea yang Kusayang
(Aku harap dia mengerti bahwa betapa rasa kasih-sayangku dan tulus
tercurah kepadanya. Lihat saja aku memanggilnya "sayang", "Rindu",
"Kekasih", atau "Cinta". Bukankah itu semua panggilan yang menunjukkan
keakuran, kepaduan, kesaling-membutuhkan, kemesraan yang tak mudah
diurai dengan kata—meskipun memang sangat mudah tercemar oleh ulah
begundal pendusta, atau dalam istilah yang teman pakai: munafikin.)
Ideaku sayang, Kau mengetahui betapa aku selalu sayang dan kasih
kepadamu. Memang sih, sering juga aku abai hingga kau merasa jenuh,
jengkel, kemudian pergi. Tetapi, tahukah kau bahwa ketika aku
tersadar, aku mencarimu hingga merasa sangat lelah. Aku selalu rindu
kemesraan kita yang terjalin indah dan tesulam dalam setiap aksara
yang kita uraikan bersama-sama.
(dengan pembukaan demikian, semoga ia merasakan betapa kehadirannya
yang manja dan lembut-bergelora selalu aku harapkan senatiasa.)
Ideaku sayang, sungguh aku membutuhkan kehadiranmu. Aku tak tahu apa
yang akan terjadi jika kau tidak akan pernah kembali: untuk mengulang
kemesraan seperti biasanya kita bercumbu saling merayu, saling
memanjakan. Betapa indahnya hidupku karenamu. Ibarat kunang-kunang di
lembah yang gelap dan pekat, kehadiramu hangatkan setiap pandanganku
yang seidikit mengatahui.
(Tanpanya, aku sungguh tak tahu sebaiknya mulai dari mana. Maka
semampuku aku merayu-rayu, membujuk hatinya supaya berkenan kembali
dan mesra lagi, duduk bersama-sama dengan secangkir kopi hitam dan
kretek kesayangan. Setelah sebentar kuperhatikan, menulis surat
untuknya dengan isi rayuan-rayuan yang tentu tak mujarab, alangkah
baiknya jika segera kusudahi saja. Cukup satu paragraph penutup.
Selesai, segera pergi.
Ya, pergi ke mana saja yang di sana akan dengan mudah kurasakan betapa
teriknya hari musim kemarau ini, betapa rerumput kehausan dan sebagian
banyaknya sudah tewas dilalap panas. Tetapi seperti sering kukata
bahwa di mana pun dan kapan pun selalu saja ada yang cukup patut untuk
diteladani ketegguhannya yang tanggu dalam menjalani kehidupan. Kalau
mau, mari kita perhatikan di antara tanah sawah yang retak-retak
menganga, di antaranya ada rerumput dan pohon yang malah subur dan
berbunga-bunga.
Aku suka bersama mereka, berpanas-panasan. Tentu saja aku sambangi
mereka ketika hari beranjak senja. Tak terlalu panas lah! Lebih lagi
ketika cintaku, Idea, sedang merajuk dan menjauh, seperti sekarang
ini. Idea sangat manja. Aku mesti benar-benar lembut penuh
kasih-sayang memperlakukannya. Tapi sudahlah, sedang aku usahakan,
belajar dan belajar agar mampu berlaku patut. Dan, akan kuselesaikan
surat untuknya. Satu paragraph lagi.)
Ideaku sayang, jika perlakuanku keliru dan keterlaluan terhadapmu,
mohon tunjukkanlah itu dan bantu aku untuk belajar memperlakukanmu dan
apa saja secara patut dan sewajarnya. Percayalah, sayang, kau bagian
penting bagi hidupku. Sayang, datanglah dan mari kita bersama-sama
melangkah. Tanpamu aku tak tahu sebaiknya mulai dari mana. Ideaku
sayang, aku….
(Heuheu…mentok, habis sudah kata-kata untuk kalimat merayu-rayu. Jadi,
sudahi saja: cukup beri salam tanda sayang selalu .)
Merindui rindumu, Rinduku.
(Akhirnya, ngedulmelku selesai juga. Segera lipat rapih-rapih, dimpan
di atas meja dengan rapih, dan…heuheuheu….)
9.28.2013
Sebelum Kembali Bangkit
Tangga kunaiki. Aku tak kesulitan melakukannya hingga sampai tujuan.
Berkali-kali aku melakukan itu, tak kesulitan dan berhasil. Betapa
mudah meraih kejayaan. Atap bocor dapat kuperbaiki dengan baik. Itu
dimulai dengan menaiki tangga dengan baik.
Betapa mudahnya menaiki tangga kehidupan dalam meraih kejayaan. Kita
cukup tapaki setiap anak-tangganya dengan baik. Mengapa dikatakan
mudah? Karena jika itu dibandingkan dengan memelihara kejayaan yang
butuh waktu seumur-hidup tentu lebih membosankan.
Ketika kita dikeadaan jaya, kita akan mengalami betapa repotnya
memelihara apa yang kita punya. Selain hama luar yang datang hendak
menggugurkan bunga yang mekar, hasrat diri yang selalu "ingin lebih
baik" seringkali mengganggu kehusyuan kita dalam bersyukur, sehingga
kita terlena oleh penasaran yang ambisius.
Bukan penasaran yang keliru, tapi terlena yang biasanya disebabkan
ambisi. Ini bisa seringkali menjadi sebab kejatuhan seseorang dalam
keadaannya yang tengah jaya. Jika sudah jatuh, akan lebih seulit
menaiki anak tangga untuk kembali jaya. Bagaimana tidak sulit, yang
namanya jatuh ya kalau tidak patah tulang setidaknya lecet-lecet.
Lebih parah jika "sudah jatuh ketiban tangga". Tapi intinya tetap
jatuh dan mengalami kekecewaan dan penderitaan. Apa yang sebaiknya
dilakaukan? Adalah mengambil jeda: sembari menyembuhkan luka, akan
bijak jika menilik ulang apa "apa yang kita lakukan hingga sampai di
keadaan ini?". Bukankah tidak keliru bahwa mengatahui sebab masalah
sama dengan menyelesaikan sebahagian masalahnya?
Berkali-kali aku melakukan itu, tak kesulitan dan berhasil. Betapa
mudah meraih kejayaan. Atap bocor dapat kuperbaiki dengan baik. Itu
dimulai dengan menaiki tangga dengan baik.
Betapa mudahnya menaiki tangga kehidupan dalam meraih kejayaan. Kita
cukup tapaki setiap anak-tangganya dengan baik. Mengapa dikatakan
mudah? Karena jika itu dibandingkan dengan memelihara kejayaan yang
butuh waktu seumur-hidup tentu lebih membosankan.
Ketika kita dikeadaan jaya, kita akan mengalami betapa repotnya
memelihara apa yang kita punya. Selain hama luar yang datang hendak
menggugurkan bunga yang mekar, hasrat diri yang selalu "ingin lebih
baik" seringkali mengganggu kehusyuan kita dalam bersyukur, sehingga
kita terlena oleh penasaran yang ambisius.
Bukan penasaran yang keliru, tapi terlena yang biasanya disebabkan
ambisi. Ini bisa seringkali menjadi sebab kejatuhan seseorang dalam
keadaannya yang tengah jaya. Jika sudah jatuh, akan lebih seulit
menaiki anak tangga untuk kembali jaya. Bagaimana tidak sulit, yang
namanya jatuh ya kalau tidak patah tulang setidaknya lecet-lecet.
Lebih parah jika "sudah jatuh ketiban tangga". Tapi intinya tetap
jatuh dan mengalami kekecewaan dan penderitaan. Apa yang sebaiknya
dilakaukan? Adalah mengambil jeda: sembari menyembuhkan luka, akan
bijak jika menilik ulang apa "apa yang kita lakukan hingga sampai di
keadaan ini?". Bukankah tidak keliru bahwa mengatahui sebab masalah
sama dengan menyelesaikan sebahagian masalahnya?
9.01.2013
Syawal Berduka: Kehilangan
Angin kencang. Bunga-bunga mangga dan rambutan berguguran; daun-daun
berserakan. Sarang burung Pipit jatuh berisi lima bayinya, di pekan
pertama Syawal tahun ini. Ponakan, Syukia, memeliharanya. Satu per
satu mati, dua punah semuanya dalam sepekan.
Masih dalam pekan ke dua, Mimi mati. Aku tak tahu jasad terakhirnya
seperti apa, aku sedang dalam acara khitanan Adikku. Di pekan ke tiga,
tengah malam ini, kutemukan Kuya mengambang, mati.
Karenanya, Syawal kali ini memang lain dari tahun kemarin. Kini
kusebut saja sebagai Bulan Berduka, yang kemudian kuanggap merangkum
segala kejadian yang tersifati oleh konsep 'kehilangan'.
Menyedihkan, memang. Tetapi, mungkin, saat demikianlah merupakan satu
dari banyak kesempatan untuk menikmati 'kehilangan' dengan segala
akibatnya: duka, kecewa, dan punahnya harapan.
Menikmati rasa kehilangan kuharapkan dapat menjadi bagian dari langkah
dalam memahami bahwa: hidup adalah tersendiri: sebagaimana dalam
rahim, lahir kemudian mati, dan dibangkitkan lagi dihari yang Dia
janjikan.
Tersendiri!
sendiri-sendiri,
seorang diri,
sendiri.
(Seharusnya sudah cukup kesimpulannya demikian, tanpa pertanyaan. Tapi
memang...ah...sial!)
Sialnya, aku malah jadi penasaran juga: jika aku mati manti, akankah
aku merasa kehilangan? Atau setidaknya: jika aku hilang kelak, akankah
aku merasa kehilangan?
Syawal 1434
Mimi : Musang Luak (betina, ekor putih)
Kuya : Kura-lupa Sungai (sahabat sejak lebih dari 10 tahun silam)
berserakan. Sarang burung Pipit jatuh berisi lima bayinya, di pekan
pertama Syawal tahun ini. Ponakan, Syukia, memeliharanya. Satu per
satu mati, dua punah semuanya dalam sepekan.
Masih dalam pekan ke dua, Mimi mati. Aku tak tahu jasad terakhirnya
seperti apa, aku sedang dalam acara khitanan Adikku. Di pekan ke tiga,
tengah malam ini, kutemukan Kuya mengambang, mati.
Karenanya, Syawal kali ini memang lain dari tahun kemarin. Kini
kusebut saja sebagai Bulan Berduka, yang kemudian kuanggap merangkum
segala kejadian yang tersifati oleh konsep 'kehilangan'.
Menyedihkan, memang. Tetapi, mungkin, saat demikianlah merupakan satu
dari banyak kesempatan untuk menikmati 'kehilangan' dengan segala
akibatnya: duka, kecewa, dan punahnya harapan.
Menikmati rasa kehilangan kuharapkan dapat menjadi bagian dari langkah
dalam memahami bahwa: hidup adalah tersendiri: sebagaimana dalam
rahim, lahir kemudian mati, dan dibangkitkan lagi dihari yang Dia
janjikan.
Tersendiri!
sendiri-sendiri,
seorang diri,
sendiri.
(Seharusnya sudah cukup kesimpulannya demikian, tanpa pertanyaan. Tapi
memang...ah...sial!)
Sialnya, aku malah jadi penasaran juga: jika aku mati manti, akankah
aku merasa kehilangan? Atau setidaknya: jika aku hilang kelak, akankah
aku merasa kehilangan?
Syawal 1434
Mimi : Musang Luak (betina, ekor putih)
Kuya : Kura-lupa Sungai (sahabat sejak lebih dari 10 tahun silam)
5.25.2013
Mengurai Tirai
Seteleah Nabi-Nabi dan Rosul-Rosul Kau hadirkan di antara kami, kemudian Kau gelarkan ayat-ayat untuk sampai kepada pemahaman ayat-ayat lainnya, bukankah Engkau tak merencanakan apapun setelah kami merencanakan suatu hal atas kewenangan yang Kau berikan? Sebab jika Engkau bertingkah dengan rencana yang lebih mutakhir atas rencana yang telah kami susun, akan sia-sialah segala kewenan yang Kau anugerahkan kepada kami, dan percumalah segala ayat yang Engkau gelarkan bagi kami. Maka akan kami tunjuk diri kami sebagai penanggungjawab atas kejayaan dan kegagalan kami, sebab dengan sempurna telah engkau sempurnakan penciptaan segala yang di langit dan di bumi dan segala yang di antara keduanya.
Tuhan kami yang MahaEsa, sesungguhnya tiada daya kami selain yang Engkau anugerahkan kepada kami sejak awal hingga akhir. Kami mohon ridho-Mu agar dapat menyurupkan segala yang engkau kehendaki hingga tiada batas sujud kami kepada Tuhan Semesta Alam yang MahaEsa.
4.09.2013
MALAM-MALAM
Bayangkan tanpa bintang-bintang, rembulan, damar, listrik, dan lain-lain alat penerangan, malam hanya makhluk tanpa setitik pun cahaya. Jika kuacukan jempolku sejengkal dari mata, tentu tak akan tampak jempolnya, kecuali gelap. Mata benar-benar tak berguna.
Untungnya, ketika aku menyadari, entah sejak kapan, di langit malam dapat kutatap bintang, rembulan yang timbul tenggelam untuk timbul dan tenggelam ulang, dan macam-macam alat penerangan. Karena itu, baik siang atau pun malam, aku bisa leluasa melihat jempolku dan merapikan kukunya.
Bunga-bunga dan daun-daun dengan keragaman warna di masing-masih pohonnya, dan kupu-kupu yang hinggap di ujung daun kemudian pindah kepada kembang-kembang di halaman, tak dapat kusakisikan keindahannya yang sempurna ketika malam. Betapa aku kehilangan banyak warna karenanya.
Lalu, apa yang istimewa dari malam, maka aku enggan kehilanga sadarku ketika ia datang? Gelap! Ketika itulah aku mulai menyarankan kepada diriku untuk menyaksikan segala warna yang malam sembunyikan. Ketika sesuatu menjadi tak-ada, maka arti ada-nya sungguh ada.
Untungnya, ketika aku menyadari, entah sejak kapan, di langit malam dapat kutatap bintang, rembulan yang timbul tenggelam untuk timbul dan tenggelam ulang, dan macam-macam alat penerangan. Karena itu, baik siang atau pun malam, aku bisa leluasa melihat jempolku dan merapikan kukunya.
Bunga-bunga dan daun-daun dengan keragaman warna di masing-masih pohonnya, dan kupu-kupu yang hinggap di ujung daun kemudian pindah kepada kembang-kembang di halaman, tak dapat kusakisikan keindahannya yang sempurna ketika malam. Betapa aku kehilangan banyak warna karenanya.
Lalu, apa yang istimewa dari malam, maka aku enggan kehilanga sadarku ketika ia datang? Gelap! Ketika itulah aku mulai menyarankan kepada diriku untuk menyaksikan segala warna yang malam sembunyikan. Ketika sesuatu menjadi tak-ada, maka arti ada-nya sungguh ada.
3.24.2013
TIBA-TIBA TIBA
“Kemarin sudah terkejut: tiba-tiba saja aku ada.
titik di ujung daun
kilau pada embun
akan jatuh
“Kini tengah dikejutkan: apa pun tak seperti apa-apa yang dikira.
ke bumi utuh
pulang manunggal
tiada sisa sepenggal
“Nanti akan ada kejutan: tiada se-apa-pun dapat diterka, akan seperti biasa, tiba-tiba saja.
titik di ujung daun
kilau pada embun
akan jatuh
“Kini tengah dikejutkan: apa pun tak seperti apa-apa yang dikira.
ke bumi utuh
pulang manunggal
tiada sisa sepenggal
“Nanti akan ada kejutan: tiada se-apa-pun dapat diterka, akan seperti biasa, tiba-tiba saja.
3.23.2013
BEGINILAH CINTA
Kalau selesai berak, keterlaluan jika untuk
membersihkan sisa tai pada liang dubur harus minta bantu tangan lain. Tentu
saja tangan yang punya dubur akan membersingkan, dan bila perlu menyabuninya,
kemudian menyemprotkan minyak wangi agar semerbak mempesona. Siapa tahu ada
yang iseng maksa mau mengendusinya!
uWeks!!?
Kenapa kita (hampir) tak pernah
membayangkan betapa bau dan menjijikkan yang disebut tai? Kenyataannya, kita
rela menggerakan tang sang satu untuk mengusap atau menggosok dubur dan yang
lainya menyiraminya dengan air. Atau ada yang iseng, setiap kali cebokan
membayangkannya sehingga geleng-geleng kepala karena terkagum-kagum?
Heuheu...
Siapapun akan sanggup melakukan
''cebokan''. Terpaksa atau tidak, kukira tak ada yang jalan-jalan ke maal atau
kekebun dengan dubur yang masih dikitari sisa tai! Itulah cinta, saudara
saudari. Karena sang 'aku' mencintai dirinya 'aku'. Sesederhana itukah cinta?
Hmm...kukira iya. Yang bikin ribet itu kan aksesoris pada gaun. Bukankan untuk
menutupi tubuh itu cukup dengan dua kain sarung? Tapi, kan, ''tak indah....''
Ingat, kalau engkau mencintai suamimu atau
istrimu, maka kalian akan rela ''menceboki'' pasanganmu. Tidak hanya mencitai
kebaikan, keramaha, dan perhatiannya, tetapi juga mencintai raganya, termasuk
apa-apa yang terkandung didalam raga itu, seperti tainya, keringat baunya,
kentut busuknya, dan seabreg keburukannya.
Contoh paling sederhana adalah orang-tua
kepada anaknya. Perhatikan siapa saja yang punya bayi, apa yang mereka lakukan
kepada anaknya, kira-kira begitulah cinta. Kalau sanggup mengingat masa bayi
kita, apalagi menginga bagaimana kita dalam kandungan dan dilahirkan, tentu
kita akan menemukan cinta yang agung, luhur. Jika kalian temukan orang tua yang
bengis, membunuh atau menyiksa bayinya, itulah sejahat-jahatnya bintang.
Sekarang aku mau belajar merayu. Heu...
jika kau haturkan segala bunga
sebagai tanda cinta
ketika kering akan kubuang saja
sayang
(jadi pupuk alamiah, boleh lah)
maka persembahkanlah seluruhmu
akan kugenggam hingga lebur kau dan aku
menyatu memadu
menjadi kita tanpa yang ini yang itu
(istilah gaulnya, cinta hingga moddarr,
sayang!)
cukup kau dan aku
sayang
(titik! Pokoknya t i t i k ! Sebabnya, gak
tau lagi apa yang mau ditulis)
euHeuheu...
3.17.2013
MAAF BANGET. PLIIIS...MAAFIN, YA!
Serupa itu bukan sama. Misalkan, saya
penjudi kartu. Suatu masa saya insyaf, dan berjanji kepada Ibu saya untuk tidak
berjudi lagi. Tetapi permainan berganti, taruhan ''bola sepak'', kemudian
insyaf lagi; pasang togel, lagai-lagi insyaf lagi.
Memang tidak judi kartu lagi, tapi tarohan
dan pasang togel atau unyeng. Jelas beda judi kartu dengan judi ''bola sepak''.
Judi kartu, ya, saya yang memainkan kartu; judi ''bila sepak'', ya, yang nongol
di TV atau diinternet yang maen, bukan saya.
Itu tak sama, tetapi serupa. Jika kita
umpamakan judi sebagai sebuah bingkai, maka togel, unyeng, tarohan, dll., itu
akan pas pada bingkai tersebut. Serupa memang bukan berarti sama. Tentu masih
banyak contoh yang dapat anda kemukakan, dan siapa tahu lebih relevan.
Ketika saya melakukan kekeliruan, kemudian
meminta maaf kepada Ibu saya; mengulang kekeliruan serupa, minta maaf lagi;
mengulang yang serupa, mengatakan maaf lagi, itu menunjukkan betapa saya tidak
menghargai diri saya sendiri. Saya membuang nilai diri saya pribadi.
Keledai masih mending (dalam pepatah
populer), toh ia masih berusaha keluar dari lubang untuk kemudian meneruskan
perjalanan dan waspada dalam melangkah (meskipun sangat mungkin akan jatuh pada
lubang yang akan dilaluinya).
Akan lebih memprihatikan ketika saya enggan
beranjak dari kubangan kekeliruan, atau beranjak dari itu karena tertarik
dengan kekeliruan lainnya, seraya berkata, “MAAF BANGET. PLIIIS...MAAFIN LAGI,
YA!''
Jika sudah demikian, cangkang kacang lebih
berharga dari 'maaf' yang seharusnya istimewa, karena isi dalam cangkan kacang enak
dimakan sambil menikmati kopi! Heuheu….
16-03-2013
MAAF LAGI, YA!
Memang, ''sepelit-pelitnya orang adalah
yang pelit mengatakan 'maaf'. Toh, kata apapun, kan, gratis!'' Pada suatu
percakapan, Guru utama saya nyeleh ketika ungkapan itu dilontarkan Guru saya
yang lainnya: ''maaf'', sambil memakan bala-bala yang memang tinggal sesuap, ''lebih
murah dari sepasi goreang ini''.
Pengakuan, penyesalan, kehendak. Itulah
konsep yang terkandung dalam 'maaf'. Menyadari tiga hal tersebut, tentu saya
tidak akan sering-sering mengatakan 'maaf'. Saya akan memilih berhati-hati
saja, jangan sampai saya dipaksa kenyataan untuk mengatakan itu. Apa lagi
berulang katakan 'maaf' untuk hal yang serupa.
'Maaf' sebagai rayuan, gombalan, muslihat, hanya
akan dikatakan oleh pakar pembual. Meskipun tetap, tak ada seorangpun yang sanggup
mendustai dirinya sendiri! Jika itu saya lakukan, tentu hidup saya akan
gelisah, nilai kata-kata saya akan nyaris tak berharga, bahkan kejujuran saya
pun akan (patut) terabaikan.
Semakin sering saya mengatakan 'maaf',
berarti saya orang yang ceroboh, teledor, lalei. Apa lagi untuk kekeliruan yang
serupa, berarti saya tak tahu diri, tak tahu malu; berarti saya telah
mengabaikan kesadaran saya, padahal itu bagian dari ciri kemanusiaan saya
sebagai manusia!
Jika saya mengatakan ''Maaf lagi, ya!''
untuk kekeliruan serupa, berarti menggambarkan bahwa saya pun tidak
mementingkan kata-kata saya sendiri. Kalau begitu, siapa yang akan menganggap
penting kata-kata saya. Bukankah 'maaf' itu mengandung pengakuan, penyesalan,
dan kehendak untuk tidak mengulang kekeliruan serupa?
16-03-2013
MAAF
Aku pilih sakralitas untuk menunjukkan
betapa agungnya kata 'maaf'. Kehebatannya dalam merangkum beberapa konsep
memang mengesankan. Tentu bagi siapa saja, kata 'maaf' akan tampak demikian.
Ketika saya mengatakan ''maafkan saya...''
(atau sekedar 'maaf' secara kontekstual tentunya) berarti saya mengakui bahwa
saya melakukan kekeliruan, menyesalinya, dan berkehendak untuk tidak mengulang
kekeliruan yang serupa.
'pengakuan', 'penyesalan', dan 'kehendak'
termaksud terangkum dalam istilah 'maaf'! Ini 'maaf' yang ditulis atau
diucapakan secara tulus, rendah hati, jujur, dari titik pusat nurani. Kecuali
'maaf' diungkapkan ketika dalam keadaan ''tak sadar''kan diri!
Sakralitas kata 'maaf' lebih karena ia
mewakili tiga hal tersebut di atas, sekaligus menunjukkan bahwa kesadaran,
sebagai ciri manusia, masih ada, masih dimiliki oleh pengungkapnya.
Tak pernah saya dengar Burung Elang saya
mengatakan ''maaf, tuanku yang tolol'' ketika teriakkannya benar-benar
mengganggu jam tidur siang saya.
16-03-2013
Langganan:
Postingan (Atom)
