9.06.2012

KARAM


diam-diam
mendalam
merendam

4 September 2012

SELUANG PANJANG



Sekejap saja.
Cahaya sudah tampakkan
ragam warna dan rupa
jauh sebelum kesadaran kita
menyadarinya.

Sekejap saja.
Terlentang, kengkurap, duduk,
jongkok, kemudian berdiri,
dan tiba-tiba berlari.
Perjalanan akan lebih panjang,
menjulang, sejuk, gersang
tenang dan tak tenang
bergantian.

Sekejap saja.
Waktu menjadi hakim yang tak peduli.
Jika harus berlalu, maka berlalulah
semua. ''ubah!'', sabdanya.
Maka tanah membasah, pucuk menyubur
dan bunga berkembang,
mengalun burung dan serangga,
angin, hujan, kering kerontang
punah musnah pisah pilah

Sekejap saja.
Tercantas oleh loncatan kesadaran,
tiba-tiba, tanpa kabar terbaca,
semerbak kamboja melambai-lambai
memanggil menggapai sukma.
Tanah merah ulurkan tangan,
''kemarilah, nak, akan kucumbu
kau hingga hilang tak berbayang!''
Maka lenyap untuk menyambut masa
seluang yang panjang.

5 September 2012

ARAS JARI



jemari tak lentik, kaku, bisu,
wakil lidahku
sulamkan aksara merupa
kata-kata
deret kalimat bait acak
adalah tapak
sampah pikiran
runtah rasaan
limbah nalaran
sembarangan
tercecer jejak
berserak

masih dengan jemari yang sama
ingatan meloncat-loncat. memaksa
minta diperhatikan kesadaran
yang terduduk selonjoran
pelan-pelan, perlahan
mewarna kenangan
ah, rupanya lama terlena
terlalu cepat kejarannya
memburu
bisu

baiklah
sejenak nikmati jeda
membuka lembar tanpa batas
telaah
banyak makna
terabaikan nyaris lepas
inilah
dengan jemari yang tak beda
meretas rimbun belukar dalam nafas
akulah
dari aku kepada aku-Nya
mencium bumi menuju aras, dalam dan luas

7 September 2012